Jenis Kanker

Penyebab Kanker Serviks

Kanker serviks adalah penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama wanita (vagina).

Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Berawal terjadi pada leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh penderita.

Gejala Kanker Serviks

  • Perubahan siklus menstruasi tanpa diketahui penyebabnya, misalnya menstruasi yang lebih dari 7 hari untuk 3 bulan atau lebih, atau pendarahan dalam jumlah yang sangat banyak.
  • Cairan yang keluar tanpa berhenti dari vagina dengan bau yang aneh atau berbeda dari biasanya, berwarna merah muda, pucat, cokelat, atau mengandung darah.
  • Pendarahan Pada Vagina Pendarahan tidak normal dari vagina, termasuk flek adalah gejala yang sering terlihat dari kanker serviks. Pendarahan biasanya terjadi setelah berhubungan seks, di luar masa menstruasi atau setelah menopause
  • Rasa sakit tiap kali melakukan hubungan seksual.

Gejala Pada Kanker Serviks Stadium Akhir

  • Kehilangan selera makan.
  • Perubahan pada kebiasaan buang air besar dan kecil.
  • Rasa nyeri pada punggung dan samping, ini disebabkan pembengkakan pada ginjal. Kondisi ini disebut sebagai hidronefrosis
  • Bermasalah saat buang air kecil karena penyumbatan ginjal atau ureter.
  • Penurunan berat badan.
  • Pembengkakan pada salah satu kaki.
  • Nyeri pada tulang.
  • Terjadinya hematuria atau darah dalam urin.

 

Penyebab kanker serviks

  • Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal.Akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18.
  • Kanker Serviks  disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.

 

Penularan kanker serviks

  • Melalui hubungan seksual penularan virus HPV bisa terjadi, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital.

 

Diagnosa :

  • Biopsi Kerucut (Cone Biopsy). Sebuah prosedur operasi kecil bernama biopsi kerucut (cone biopsy)mungkin perlu dilakukan. Istilah biopsi kerucut diambil dari jaringan berbentuk kerucut yang diambil dari leher rahim. Sel-sel dari jaringan ini akan diperiksa dengan mikroskop untuk memeriksa apakah ada sel kanker. Prosedur ini dilakukan di rumah sakit dengan pemakaian bius lokal. Efek sampingnya adalah pendarahan yang mungkin terjadi hingga satu bulan setelah operasi. Selain itu, menstriuasi juga mungkin akan terasa nyeri. Jika leher rahim mengandung sel kanker atau sel yang berpotensi menjadi kanker, penanganan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan seluruh sel abnormal tersebut terangkat.
  • Prosedur Kolposkopi. Kolposkopi adalah pemeriksaan leher rahim untuk mencari kelainan. Dokter akan memakai kaca pembesar khusus untuk melihat vulva, vagina, dan leher rahim. Proses ini menggunakan mikroskop dengan lampu kecil di ujungnya. Jika terlihat kelainan pada proses kolposkopi, sampel kecil jaringan akan diambil dari leher rahim dan diperiksa di bawah mikroskop, untuk melihat apakah ada sel kanker di dalamnya. Seluruh proses ini akan dilakukan oleh dokter ginekolog.

 

Pemeriksaan Lebih Lanjut

  • CT scan: pemindaian kondisi tubuh bagian dalam dengan komputer untuk mendapatkan gambar tiga dimensi. Berguna untuk melihat kanker yang tumbuh dan apakah kanker sudah menyebar ke bagian tubuh yang lain
  • MRI scan: pemindaian memakai medan magnet yang kuat dan gelombang radio menghasilkan gambar dari dalam tubuh. Berguna untuk melihat apakah kanker sudah menyebar dan seberapa jauh penyebarannya.
  • Tes darah: dilakukan untuk memeriksa kondisi hati, ginjal, dan sumsum tulang.
  • Pemeriksaan organ panggul: rahim, vagina, rektum, dan kandung kemih akan diperiksa apakah terdapat kanker.
  •  PET scan: jika digabungkan dengan CT scan, dapat melihat penyebaran kanker dan juga memeriksa respons seseorang terhadap pengobatan yang dilakukan
  • X-ray dada: untuk melihat apakah kanker sudah menyebar ke paru-paru

 

Stadium kanker serviks

  • Stadium 0: stadium prakanker. Tidak ada sel kanker di leher rahim, tapi ada perubahan biologis yang berpotensi menjadi kanker. Tahap ini sering disebut sebagai cervical intraepithelial neoplasia (CIN) atau carcinoma in situ (CIS).
  • Stadium 1: kanker masih berada di dalam leher rahim dan belum ada penyebaran.
  • Stadium 2: kanker sudah menyebar ke luar leher rahim dan di jaringan sekitarnya. Tapi belum mencapai dinding panggul atau bagian bawah vagina.
  • Stadium 3: kanker sudah menyebar ke dinding panggung dan/atau ke bagian bawah dari vagina.
  • Stadium 4: kanker sudah menyebar ke usus, kandung kemih, atau organ lain,  seperti paru-paru.

 

Pengobatan Kanker Serviks

  • Radioterapi

Radioterapi adalah cara paling sering dilakukan untuk pengobatan kanker serviks. Radioterapi juga sangat cocok untuk segala kanker serviks di awal dan lanjut stadium. Radioterapi sendiri adalah penggunaan radiasai pengion yang diberikan pada penderita kankers dengan mematikan sel kanker sesuai dosis pada volume tumor. Radiasi akan merusak sel kanker dan menghambat pembelahan sel. Pemberian radiasi pada penderita kanker serviks disesuaikan dengan ukuran, luas, tipe dan stadium tumor. Meskipun dianggap sebagai pengobatan kanker serviks yang sangat baik akan tetapi memiliki efek samping pada perubahan tubuh yaitu kulit, rambut. Gangguan yang mungkin terjadi adalah infeksi kandung kemih. Radioterapi dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan tingkatan stadium kanker serviks.

  1. Radioterapi seluruh panggul (whole pelvis)
  2. Radioterapi karsinoma serviks uteri pasca wertheim
  3. Radioterapi brachiterapi
  • Operasi pengangkatan

Operasi pengangkatan rahim dan uterus (kandungan) dikenal dengan istilah histerektomi yaitu dengan melakukan pengangkatan rahim penderita yang dilakukan pada bagian rahim vagina dan jaringan parametrium, kemudian dilakukan pembersihan bilaterial kelenjar getah bening pada panggul. Ada 4 jenis tingkatan histerektomi:

  1. Histerektomi parsial (subtotal). Operasi pengangkatan yang dilakukan hanya pada rahim. Dengan operasi ini penderita kemungkinan menderita kanker rahim masih besar oleh karena itu disarankan melakukan pemeriksaan rutin.
  2. Histerektomi total. Operasi pengangkatan rahim dan mulut rahim. Pada operasi ini tidak melakukan pengangkatan tuba falopi dan ovarium.
  3. Histerektomi total dan salpingo-ooforektomi bilateral. Operasi pengangkatan rahim, serviks, tuba falopi dan ovarium.
  4. Histerektomi radikal. Operasi pengangkatan rahim, kelenjar getah bening, serviks, bagian atas vagina dan jaringan dalam panggul diangkat. Operasi pengangkatan (histerektomi) dapat melalui perut dan alat kewanitaan (vagina). Histerektomi melalui vagina cenderung lebih beresiko kecil dan cepat pulih . Cara pengobatan melalui histerektomi sering dilakukan  karena memiliki keunggulan yaitu membersihkan lesi kanker dan pengobatan yang lebih cepat. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan akan mengalami gangguan pada buang air kecil dan pengangkatan yang luas.
  • Radiopartikel

Teknologi pengobatan yang ditujukan menghambat perkembangan sel kanker dan tidak menggangu kegiatan sehari-hari. Radioterapi menggunakan biji partikel seluas 1,7 cm yang kemudian akan memancarkan sinar gamma dan tidak menghancurkan sel-sel tubuh lain. Pengobatan ini diharapkan dapat meminimalisir terjadinya kegagalan.

Cara diatas adalah cara yang umum digunakan untuk pengobatan kanker serviks selain pengobatan kolaborasi medis barat-timur, kemoterap dan lain-lain. Penderita kanker serviks diharapkan tidak putus asa karena dalam perkembangan teknologi saat ini banyak sekali menemukan teknik penyembuhan yang bisa membantu meminimalisir kerugian kanker serviks. Segera temukan gejala awal kanker serviks ,konsultasikan dengan dokter segera agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Efek Samping Pengobatan Kanker Serviks.

 

  • Mengalami menopause dini
  • Terjadinya penyempitan vagina
  • Munculnya limfedema atau penumpukan cairan tubuh
  • Dampak emosional pada penderita

 

 

Komplikasi Kanker Serviks

  • Fistula

Fistula adalah terbentuknya sambungan atau saluran abnormal antara dua bagian dari tubuh. Pada kasus kanker serviks, fistula bisa terbentuk antara kandung kemih dan vagina. Ini bisa mengakibatkan pengeluaran cairan tanpa henti dari vagina. Terkadang fistula bisa terjadi antara vagina dan rektum. Fistula termasuk komplikasi yang tidak umum. Hanya terjadi pada 2 persen kasus kanker serviks lanjutan.

Untuk memperbaiki fistula, biasanya perlu dilakukan operasi. Tapi ini sering kali tidak mungkin dilakukan pada wanita dengan kanker serviks lanjut karena kondisi mereka yang sudah sangat lemah. Jika operasi tidak memungkinkan, krim dan pelembap bisa digunakan untuk mengurangi pengeluaran cairan. Ini juga bertujuan untuk melindungi vagina dan jaringan di sekitarnya agar tidak rusak dan terjadi iritasi.

  • Rasa sakit akibat penyebaran kanker

Rasa sakit yang parah akan muncul ketika kanker sudah menyebar ke saraf, tulang, atau otot. Tapi beberapa obat pereda rasa sakit biasanya bisa dipakai untuk mengendalikan rasa sakit itu. Obat-obatan yang dipakai mulai parasetamol , obat anti inflamasi non-steroid atau NSAIDs, hingga morfin. Semua tergantung pada tingkat rasa sakit yang dirasakan.

Jika pereda rasa sakit tidak banyak membantu, tanyakan obat yang mungkin memiliki efek lebih kuat. Radioterapi jangka pendek juga efektif untuk mengendalikan rasa sakit.

  • Penggumpalan darah setelah pengobatan

Seperti kanker lainnya, kanker serviks bisa membuat darah menjadi lebih ‘lengket’ atau  ‘kental’ dan cenderung membentuk gumpalan. Risiko penggumpalan darah juga meningkat setelah menjalani kemoterapi dan istirahat pasca operasi. Munculnya tumor yang besar bisa menekan pembuluh darah pada panggul. Hal inilah yang memperlambat aliran darah dan akhirnya mengakibatkan penggumpalan di kaki. Gejala terjadinya penggumpalan darah pada kaki antara lain:

  • Sakit yang terasa sangat dalam di area kaki yang terkait.
  • Rasa sakit dan pembengkakan di salah satu bagian kaki, biasanya pada betis.
  • Kulit memerah, terutama pada bagian belakang kaki di bawah lutut.
  • Pada bagian yang terjadi penggumpalan, kulit akan terasa hangat.

Yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya pulmonary embolism atau emboli paru karena akibatnya bisa sangat fatal. Emboli paru adalah penggumpalan darah dari pembuluh darah di kaki bergerak ke paru-paru dan menghalangi pasokan darah ke paru-paru. Penggumpalan darah di kaki ini bisa ditangani dengan kombinasi obat-obatan pengencer darah, misalnya obat-obatan jenis heparin  atau waefar. Semacam stocking juga akan dibalutkan ke kaki karena bisa membantu memperlancar peredaran darah ke seluruh tubuh.

  • Pendarahan berlebih

Pendarahan berlebih bisa terjadi jika kanker menyebar hingga ke vagina, usus, atau kandung kemih. Pendarahan bisa muncul di rektum atau di vagina. Bisa juga terjadi pendarahan saat buang air kecil. Pendarahan berlebihan bisa ditangani dengan kombinasi obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah. Obat ini bisa menghalangi aliran darah.

Pendarahan kecil bisa ditangani dengan obat bernama asam trabneksamat. Obat ini membuat darah menggumpal sehingga dapat menghentikan pendarahan. Radioterapi juga efektif dalam menghentikan pendarahan karena kanker.

  • Produksi cairan vagina yang tidak normal

Cairan vagina bisa berbau aneh dan tidak sedap akibat dari kanker serviks stadium lanjutan. Cairan yang keluar bisa muncul karena beberapa alasan, yaitu:

  • Kerusakan pada jaringan sel-sel.
  • Kerusakan pada kandung kemih atau usus sehingga terjadi kebocoran isi organ-organ tersebut yang keluar melalui vagina.
  • Karena infeksi bakteri pada organ vagina.
  • Pengobatan untuk kelainan cairan vagina ini menggunakan gel antibakteri yang mengandung metronidazole . Bisa juga dengan cara memakai baju yang mengandung zat arang (karbon). Karbon adalah senyawa kimia yang sangat efektif untuk menyerap bau yang tidak sedap.
  • Perawatan Paliatif

Perawatan paliatif bisa menjadi alternatif jika pasien tidak ingin mendapatkan perawatan kanker. Perawatan ini bertujuan untuk mengendalikan gejala-gejala akibat kanker dan membuat Anda merasa lebih nyaman. Tanyakan pada dokter agar Anda paham dengan apa yang akan terjadi.

  • Gagal Ginjal 

Ginjal berfungsi membuang materi limbah dari dalam tubuh. Limbah ini dibuang melalui urin melewati saluran yang disebut ureter. Tes darah sederhana bisa dilakukan untuk mengawasi kinerja ginjal. Tes darah ini biasanya disebut sebagai tingkat serum kreatinin.

Pada beberapa kasus kanker serviks lanjutan, kanker bisa menekan ureter. Ini menyebabkan terhalangnya aliran urin untuk keluar dari ginjal. Terkumpulnya urin di ginjal lebih dikenal dengan istilah hidronefrosis. Kondisi ini bisa menyebabkan ginjal membengkak dan meregang. Hidronefrosis parah bisa merusak ginjal sehingga kehilangan seluruh fungsinya. Kondisi inilah yang disebut sebagai gagal ginjal.

Pengobatan untuk gagal ginjal adalah dengan mengeluarkan semua urin yang terkumpul di ginjal. Pipa akan dimasukkan melalui kulit dan ke dalam tiap ginjal, dikenal sebagai nefrostomi perkutan. Pilihan pengobatan lain adalah memperlebar kedua saluran ureter. Ini dilakukan dengan cara memasukkan pipa besi kecil atau stent ke dalam ureter.

Beberapa gejala yang muncul akibat gagal ginjal bisa sangat beragam, yaitu:

  • Sesak napas.
  • Mual
  • Pembengkakan pada pergelangan, tangan atau kaki karena penimbunan cairan.
  • Darah dalam urin.

 

baca Selengkapnya

Penyebab Kanker Payudara

 

 

Kanker payudara adalah kanker paling umum di kalangan wanita. Hal ini cenderung terjadi pada usia lebih dini daripada kanker lain atau serangan jantung dan stroke. Kemungkinan terkena kanker payudara meningkat secara dramatis pada usia wanita : 13 dari 1.000 perempuan di usia 40-an; 23 dari 1.000 perempuan di usia 50 tahunan; 29 dari 1.000 wanita berusia 60-an; dan 31 dari 1.000 perempuan di 70-an mereka.

Setiap resiko kanker payudara pada wanita dapat mempunyai kemungkinan yang lebih tinggi atau lebih rendah, bergantung pada factor yang meliputi riwayat keluarga, usia saat menstruasi pertama, genetika, serta faktor lainnya.

Kanker payudara tidak menyerang kulit payudara yang berfungsi sebagai pembungkus, kanker payudara mengakibatkan sel dan jaringan payudara berubah bentuk  menjadi abnormal dan bertambah banyak secara tidak terkendali.

 

Gejala kanker payudara

  • Benjolan pada payudara anda berubah bentuk / ukuran
  • Kulit payudara berubah warna: dari merah muda menjadi coklat hingga seperti kulit jeruk
  • Puting susu masuk ke dalam (retraksi)
  • Salah satu puting susu tiba-tiba lepas / hilang
  • Bila tumor sudah besar, muncul rasa sakit yang hilang-timbul
  • Kulit payudara terasa seperti terbakar
  • Payudara mengeluarkan darah atau cairan yang lain, padahal Anda tidak menyusui
  • Tanda kanker payudara yang paling jelas adalah adanya borok (ulkus) pada payudara. Seiring dengan berjalannya waktu, borok ini akan menjadi semakin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara. Gejala lainnya adalah payudara sering berbau busuk dan mudah berdarah.

 

Berikut karakteristik benjolan yang mengarah ke kanker

  • Disertai Kulit payudara berlesung pipit
  • Benjolan tetap di satu daerah payudara; tidak bergerak
  • Benjolan keras
  • Benjolan tidak diskrit; tidak mudah dibedakan
  • Tidak ada benjolan di bagian payudara lain (hanya benjolan tersebut)
  • Benjolan disertai dengan berdarah puting debit
  • Hanya ada satu benjolan

 

Berikut benjolan yang kemungkinan kecil kanker payudara

  • Benjolan bergerak di payudara
  • Benjolan menghilang setelah siklus menstruasi
  • Ada beberapa benjolan payudara
  • Benjolan lembut
  • Benjolan diskrit; mudah dibedakan
  • Ada benjolan di payudara sebelahnya

 

Diaknosa :

  • Biopsi. Pemeriksaan ini meliputi proses pengambilan sampel sel-sel payudara dan mengujinya untuk mengetahui apakah sel-sel tersebut bersifat kanker. Melalui prosedur ini, sampel biopsi juga akan diteliti untuk mengetahui jenis sel payudara yang terkena kanker, keganasannya serta reaksinya terhadap hormon.
  • Mamografi. Pemeriksaan dengan mamografi umumnya digunakan untuk mendeteksi keberadaan kanker.
  • USG. Jenis pemeriksaan ini digunakan untuk memastikan apakah benjolan pada payudara berbentuk padat atau mengandung cairan.

 

Saat didiagnosis positif mengidap kanker, Anda memerlukan sejumlah pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui stadium dan tingkat penyebaran kanker. Di antaranya:

  • Pemeriksaan reseptor hormon

Pertumbuhan sel kanker payudara juga mungkin dipicu oleh hormon alami tubuh, misalnya estrogen  dan progesteron. Sampel sel kanker akan diambil dari payudara dan diuji untuk melihat reaksinya pada estrogen atau progesteron. Jika hormon menempel pada sel kanker, yaitu menggunakan reseptor hormon, sel tersebut akan disebut sebagai reseptor hormon positif. Proses pengobatan untuk jenis kanker ini adalah dengan menghentikan efek-efek atau menurunkan tingkat hormon tersebut yang dikenal sebagai terapi hormon.

  • MRI dan CT scan.
  • Rontgen dada.

Pemeriksaan tulang untuk mengecek apakah kanker sudah menyebar ke tulang. Biopsi kelenjar getah bening (noda limfa) di ketiak. Jika terjadi penyebaran kanker, kelenjar getah bening pertama yang akan terinfeksi adalah noda limfa sentinel.Lokasinya bervariasi jadi perlu diidentifikasikan dengan kombinasi isotop radioaktif dan tinta biru.

 

Anda juga dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan yang akan menunjukkan reaksi kanker pada jenis-jenis pengobatan tertentu. Di antaranya:

  • Stadium Kanker Payudara

Stadium menjelaskan ukuran kanker dan tingkat penyebarannya. Kanker payudara duktal non-invasif terkadang digambarkan sebagai Stadium 0. Stadium lainnya menjelaskan perkembangan kanker payudara invasif. Dokter akan menentukan stadium kanker setelah Anda didiagnosis positif terkena kanker.

Pada stadium 1

Ukuran tumor kurang dari 2 cm. Tumor tidak menyebar ke kelenjar getah bening di ketiak dan tidak ada tanda-tanda penyebaran kanker ke bagian lain tubuh.

Pada stadium 2

Ukuran tumor 2-5 cm atau tidak ada penyebaran ke kelenjar getah bening, atau keduanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa kanker sudah menyebar ke bagian lain tubuh.

Pada stadium 3

Ukuran tumor 2-5 cm. Tumor mungkin menempel pada kulit atau jaringan di sekitar payudara. Kelenjar getah bening di ketiak terinfeksi, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa kanker sudah menyebar ke bagian lain tubuh.

Pada stadium 4

Tumor dengan segala ukuran dan sudah menyebar ke bagian lain tubuh (metastasis).

 

  • Pemeriksaan HER2

Kanker yang dirangsang oleh protein, disebut dengan HER2 (human epidermal growth factor receptor 2), dapat ditangani dengan obat-obatan yang memblokir efekHER2. Jenis pengobatan ini disebut terapi biologis atau molekul.

 

Faktor penyebab

  • Terdapat Benjolan Jinak

Sering orang mengira, jika terasa benjolan payudara adalah ciri-ciri kanker payudara. Padahal belum tentu benjolan payudara, meskipun beberapa jenis benjolan dapat menjadi penyebab kanker payudara. Benjolan jinak pada jaringan payudara misalnya sel yang tumbuh abnormal di saluran atau sel-sel abnormal di dalam lobus payudara dapat meningkatkan kemungkinan kanker payudara.

  • Faktor Usia

Seiring bertambahnya usia, risiko kanker juga akan meningkat. Kanker payudara umumnya terjadi pada wanita berusia di atas 50 tahun yang sudah mengalami menopause. Sekitar 80 persen kasus kanker payudara terjadi pada wanita berusia di atas 50 tahun.

  • Pekerjaan tertentu
Peneliti Perancis menemukan bahwa wanita yang bekerja pada malam hari sebelum kehamilan pertama memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara pada akhirnya . Peneliti Kanada menemukan bahwa pekerjaan tertentu, terutama yang membawa tubuh manusia ke dalam kontak dengan kemungkinan karsinogen dan endokrin terkait dengan risiko yang lebih tinggi terkena kanker payudara . Contohnya termasuk bar / perjudian, otomotif manufaktur plastik, logam-kerja, pengalengan pangan dan pertanian. Mereka melaporkan temuan mereka dalam edisi November 2012 Kesehatan Lingkungan
  • Konsumsi Alkohol

Bahaya alkohol salah satunya adalah dapat menjadi penyebab berkembangnya sel kanker, seperti kanker payudara. Sebuah penelitian kanker mengemukakan bahwa setiap 200 wanita yang secara teratur mengkonsumsi minuman beralkohol setiap sehari, terdapat tiga wanita yang terkena kanker payudara, dibandingkan dengan wanita yang tidak mengkonsumsi alkohol sama sekali.

  • Risiko Paparan Radiasi

Risiko Anda untuk terkena kanker payudara juga bisa meningkat jika sering terpapar radiasi atau akibat prosedur medis tertentu yang menggunakan radiasi seperti rontgen dan CT scan.

  • Obesitas 
Pasca-menopause wanita gemuk dan kelebihan berat badan mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara. Para ahli mengatakan bahwa ada tingkat yang lebih tinggi dari estrogen pada wanita menopause obesitas, yang mungkin menjadi penyebab dari risiko yang lebih tinggi.

Tinggi – tinggi dari rata-rata wanita memiliki kemungkinan sedikit lebih besar terkena kanker payudara dibandingkan wanita yang lebih pendek dari rata-rata. Para ahli tidak yakin mengapa.

  • Terapi Penggantian Hormon (HRT)

Terapi penggantian hormon (HRT) sering dihubungkan dengan risiko kanker payudara yang menjadi lebih tinggi. Diperkirakan bahwa akan ada tambahan 19 kasus kanker payudara untuk setiap 1.000 wanita yang menggunakan kombinasi HRT selama 10 tahun. Resiko kanker akan terus meningkat jika semakin lama melakukan HRT. Pemakaian HRT untuk membuat hormon kembali normal selama atau lebih dari lima tahun harus di hentikan, penghentian pemakaian HRT merupakan cara mencegah kanker payudara yang paling efektif.

  • Risiko Paparan Estrogen
Risiko terkena kanker payudara akan sedikit meningkat akibat tingkat paparan terhada pestrogen dalam tubuh. Contoh:Jika Anda tidak memiliki keturunan atau melahirkan di usia lanjut. Hal ini akan meningkatkan risiko kanker payudara karena paparan terhadap estrogen tidak terhalang oleh proses kehamilan.
  • Jika Anda mengalami masa menstruasi yang lebih lama

(misalnya, mulai menstruasi sebelum usia 12 tahun atau mengalami menopause setelah usia 55 tahun).

  • Genetika 

wanita yang memiliki kerabat dekat yang memiliki / telah payudara atau kanker ovarium lebih mungkin untuk mengembangkan kanker payudara. Jika dua anggota keluarga dekat mengidap penyakit ini, itu tidak berarti mereka berbagi gen yang membuat mereka lebih rentan, karena kanker payudara adalah kanker yang relatif umum.  Sebagian besar kanker payudara tidak turun-temurun. Wanita yang membawa gen BRCA1 dan BRCA2 memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara dan atau kanker ovarium. Gen-gen ini bisa diwariskan. TP53, gen lain, juga terkait dengan risiko kanker payudara yang lebih besar.

  • Pengaruh Diagnosis Kanker Payudara yang Sebelumnya

Jika Anda pernah mengidap kanker payudara atau terjadi perubahan seperti sel kanker non-invasif yang terkandung di dalam saluran payudara, Anda dapat kembali terkena kanker pada payudara yang sama atau pada yang satunya.

  • Masa Menstruasi & Reproduksi

Jika anda telah mengalami menstruasi dini pada usia kurang dari 12 tahun dan manepause terlambat (lebih dari 55 tahun) kemungkinan lebih tinggi terkena risiko kanker payudara. Faktor lain adalah tidak memiliki anak dan melahirkan di usia yang cukup tua menjadikan risiko terkena kanker payudara lebih besar.

  • Semakin tua 
Seorang wanita, semakin tinggi risikonya terkena kanker payudara; Usia merupakan faktor risiko. Lebih dari 80% dari semua kanker payudara wanita terjadi di antara perempuan berusia 50 + tahun (setelah menopause ).
  • Jenis Kelamin

Faktor genetik yang satu ini sudah tentu tidak asing lagi, Betul.. Wanita 100 kali lebih berisiko terkena kanker payudara dibandingkan dengan pria.

  • Ras

Masalah ras mungkin perlu menjadi pertimbangan, dari data yang dihimpun dari National Breast Cancer wanita “Bule” lebih banyak terkena jenis kanker payudara.

  •  Riwayat kesehatan pribadi

Jika anda telah terdiagnosis terkena kanker payudara pada salah satu bagian payudara, maka kemungkinan besar faktor risiko akan meningkat pada payudara yang lain. Risiko juga sangat tinggi jika sebelumnya telah terdeteksi sel sel abnormal di sekitar payudara.

 

Pemeriksaan :

  • Khusus bagi wanita yang berisiko tinggi terkena kanker payudara, misalnya karena ada keluarga inti yang mengidap kanker payudara atau ovarium, mereka sebaiknya menjalaniMRI scan atau mamografi tahunan sebelum mencapai usia 50 tahun. Pemeriksaan MRIkadang menjadi pilihan karena hasilnya yang lebih akurat untuk mendeteksi kanker pada payudara yang padat.
  • Alternatif  lain untuk mendeteksi kanker payudara adalah lewat pemeriksaan genetika. Anda dapat memilih untuk menjalani pemeriksaan genetika lewat tes darah untuk mencari variasi mutasi BRCA1, BRCA2, dan TP53. Memiliki salah satu gen ini dapat mempertinggi risiko kanker payudara.
  • Mamografi adalah jenis pemeriksaan yang paling sering dianjurkan bagi semua wanita untuk mendeteksi kanker payudara. Saat menjalani mamografi, payudara Anda akan diletakkan di mesin rontgen,lalu ditekan perlahan-lahan dengan pelat transparan. Walau terasa tidak nyaman, penekanan ini hanya akan berlangsung beberapa menit dan termasuk proses penting untuk menjamin agar hasil mamografi terlihat jelas.

 

Pengobatan kanker payudara

  • Terapi Radiasi (terapi lokal)

Radioterapi menggunakan sinar pengion sehingga sel kanker dapat dihancurkan. Sayangnya, dengan cara ini tak dapat menghancurkan seluruh sel kanker karena mengikuti kaidah ‘log cell kill’, sehingga membunuh secara logaritmik yang mengakibatkan selalu ada sel kanker yang tersisa.

  • Terapi Operatif (terapi lokal)

Terapi lokal dapat terbagi menjadi 2 kelompok. Pertama adalah terapi operatif dan terapi non operatif. Satu-satunya terapi yang dapat mengangkat tumor secara lengkap dengan daerah infiltrasinya hanyalah operasi. Tidak ada tindakan lain yang dapat mengangkat tumor secara lengkap selain operasi. Namun operasi hanya berhasil baik bila kanker dapat diangkat secara utuh beserta daerah penyebaran lokalnya.

“Oleh karena itu seorang pasien seharusnya merasa senang bila akan di operasi karena itu menandakan penyakit kankernya masih dapat dikontrol secara lokal dan belum menyebar jauh. Bila terapi bedah dilakukan secara baik dan dilakukan oleh seorang yang mengerti benar mengenai pertumbuhan kanker serta pada saat yang dini, maka secara lokal kanker itu dapat disembuhkan,” tegas Dr Dradjat.

  • Trans Arterial Chemo Embolisasi (TACE)

Cara ini menggunakan kemoterapi juga namun biasanya obat kemoterapi diinfuskan ke pembuluh vena sehingga mengikuti aliran ke seluruh tubuh. Dengan cara TACE ini kemoterapi disuntikkan ke pembuluh darah arteri sehingga efeknya terjadi lokal dan dosis pun dapat dikurangi.

Kekurangan cara ini adalah apabila pembuluh arterinya banyak maka akan kurang efektif. Cara ini efektif pada organ dengan mempunyai pembuluh arteri utama sedikit sehingga efek terhadap organ tersebut dapat maksimal dengan efek samping minimal, seperti liver (hati).

  • Kemoterapi (terapi sistemik)

Terapi sistemik adalah terapi melalui infus sehingga obat dapat masuk ke seluruh sistem di tubuh. Kemoterapi termasuk terapi sistemik yang paling sering digunakan.

Saat ini berkembang cara kemoterapi yang disebut ‘Neo Adjuvant’. Dengan cara ini kemoterapi sebagian diberikan sebelum operasi (biasanya 3 siklus) dengan tujuan mengecilkan kanker yang besar sehingga operasi dapat dilakukan dengan baik yaitu mengengkat seluruh tumor beserta infiltrasi lokalnya. Sisanya 3 siklus lagi diberikan setelah operasi.

Kemoterapi dapat pula diberikan secara paliatif dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup dan bukan dengan tujuan menyembuhkan. Ketidaknyamanannya adalah efek samping yang cukup berat.

  • Cryosurgery

Cara ini menggunakan alat yang dapat menurunkan temperatur setempat pada daerah yang dituju sehingga sel-sel menjadi rusak. Dapat dilakukan pada tumor besar sehingga tidak memerlukan operasi namun dengan tujuan paliatif sehingga hanya untuk mengecilkan massa tumor saja dan bukan untuk menyembuhkan.

Dengan cara ini tidak dapat ditentukan apakah batas-batasnya sudah bebas tumor atau belum, sehingga sangat berbeda dengan operasi di mana dapat memeriksa batas-batas operasi untuk meyakinkan bahwa tepi sayatan sudah bebas tumor atau belum.

  • Imunoterapi (terapi sistemik)

Terapi lain secara sistemik adalah imunoterapi, yaitu dengan menyerang sel kanker melalui sistem imun. Cara ini cukup efektif dan dengan efek samping yang ringan namun hanya secara spesifik menyerang ‘sekelompok’ sel kanker sehingga tidak semua sel kanker dapat dihancurkan.

  • Terapi hormonal (terapi sistemik)

Pada kanker yang sensitif terhadap hormon seperti kanker prostat dan kanker payudara, maka bila terdapat reseptor hormonal yang positif dapat dilakukan terapi hormonal.

 

Pengobatan Secara Herbal Dengan Herbamed Ben Ca Lang

Herbamed Ben Ca Lang, herbal untuk kanker yang berbentuk kapsul dengan komposisi bahan-bahan herbal yang sangat baik untuk tubuh diantaranya : 

  • Zat Dalam Keladi Tikus Yang Bermanfaat Untuk Penyembuhan Kankereladi tikus : 

Ribosome inacting protein atau RIP. Zat ini bermanfaat dalam mencegah penyebaran sel kanker. Tidak hanya menghambat dan mencegah saja, zat yang dikenal juga dengan ribosome inactivating protein juga memiliki kemampuan dalam menghancurkan sel-sel kanker di dalam tubuh tanpa harus merusak sel-sel normal di dalam tubuh.

Antioksidan tinggi juga bermanfaat dalam menghambat pertumbuhan sel kanker. Antioksidan yang dihasilkan adalah antioksidan Bermanfaat utnuk mencegah kerusakan gen pada penderita kanker.

Zat kurkumin merupakan senyawa antiinflamasi atau zat anti peradangan. Dalam penyembuhan kanker, zat ini bermanfaat untuk mengaktifkan mediator atau perantara. Mediator itu bisa merangsang penguatan sel dalam sistem imunitas sehingga mereka bersama-sama bisa melawan kanker.

  • Pegagan
Kandungan kimiawinya terdiri dari asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahminoside, brahmic acid, madasiatic acid, meso-inositol, centellose, carotenoids, garam-garam mineral seperti garam kalium, natrium, magnesium, kalsium, besi, vellarine dan zat samak. Efek farmakologisnya adalah anti-infeksi, antitoxic, penurun panas, peluruh air seni, Diabetes, menurunkan tekanan darah, menjaga kesehatan jantung, dll

 Sambiloto: Kandungan utama sambiloto adalah diterpen lakton andrografolida. Selain itu mengandung andrografin, panikolin, panikolida, serta antioksidan flavon yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung, anti malaria, membantu penyembuhan HIV, diare, diabetes, anti inflamasi, dan juga melawan kanker.

  • Bidara:  
Daun bidara mengandung senyawa antibakterial, sehingga sangat efektif untuk mengobati penyakit akibat bakteri ataupun virus, seperti pilek, influenza, flu babi, flu burung dan bahkan HIV/AIDS. Daun bidara mengandung senyawa antioksidan yang sangat tinggi, kandungan inilah yang sangat efektif untuk menjaga kesehatan tubuh kita dari berbagai macam penyakit.

 Daun bidara mampu mengobati penyakit lambung, antara lain tukak lambung, maag dan bahkan kanker lambung.Mampu mencegah dan mengobati penyakit kardiovaskuler yang sangat berbahaya. Mampu mengobati penyakit diabetes melitus, baik tipe 1, tipe 2 ataupun diebetes gestasional, karena daun bidara mengandung glikemik yang sangat rendah. Menjaga tubuh dari kanker

  • Temu Putih :  
Hepatoprotektor, yaitu untuk memberikan perlindungan terhadap organ hati akibat beberapa kondisi seperti sesquiterpen

Antimikroba, yaitu bertindak sebagai agen anti bakteri untuk menghambat perkembangan bakteri dalam tubuh.

Antiinflamasi, yakni untuk mencegah terjadinya peradangan

Antikanker, yaitu untuk menghambat pertumbuhan dan mematikan sel-sel kanker dalam tubuh.

Antioksidan, yaitu dengan menghambat lipid peroksidase (LPO) tanpa karagenin serta untuk menangkap superoksida.

  • Kunir Putih :

RIP (Ribosome Inacting Protein): Berfungsi menonaktifkan perkembangan sel kanker, merontokkan sel kanker tanpa merusak jaringan sekitarnya, memblokir pertumbuhan sel kanker. 

Zat Antioksidan:Untuk mencegah kerusakan gen.

Zat Anti-curcumin: Sebagai anti-inflamasi (anti-peradangan). 

Dengan kandungan aktif yang dimilikinya, Kunyit Putih dapat menyembuhkan Kanker dan Tumor, Maag, Ambeien, Radang tenggorokan, Radang hati, Bronkhitis, Amandel, Nyeri haid, Keputihan, Jerawat, Bisul, Diabetes, dan Asma, Darah tinggi, Stroke, Sakit Jantung, Asam urat serta menurunkan Kolesterol.

 

Pencegahan :

  • Berolahraga secara teratur. Aktivitas ini dapat mengurangi risiko kanker hingga 30 persen.
  • Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang, misalnya mengurangi konsumsi makanan berlemak.
  • Menjaga berat badan yang sehat, terutama bagi wanita yang sudah menopause, karena kelebihan berat badan dapat memicu lebih banyak produksi hormon estrogen.
  • Dua jenis obat yang tersedia untuk wanita dengan risiko tinggi terkena kanker payudara adalah tamoksifen dan raloksifen. Wanita yang sudah mengalami menopause  dapat menggunakan kedua obat ini, sementara wanita yang belum menopause hanya dianjurkan untuk menggunakan tamoksifen. Jika Anda pernah atau memiliki risiko mengalami penggumpalan darah atau kanker rahim, kedua obat ini juga kemungkinan tidak cocok.
  • Mastektomi (operasi pengangkatan seluruh payudara) Selain untuk menangani kanker payudara, mastektomi juga digunakan untuk menurunkan risiko dari wanita dengan riwayat kesehatan keluarga berisiko tinggi terkena kanker payudara. Mastektomi akan mengangkat jaringan payudara sebanyak mungkin sehingga dapat menurunkan risiko kanker payudara hingga 90%. Namun proses operasi tetap memiliki risiko komplikasi. Pengangkatan payudara juga mungkin dapat menurunkan kepercayaan diri pasien secara signifikan.

 

baca Selengkapnya