Penyebab Kanker Serviks

Kanker serviks adalah penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama wanita (vagina).

Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Berawal terjadi pada leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh penderita.

Gejala Kanker Serviks

  • Perubahan siklus menstruasi tanpa diketahui penyebabnya, misalnya menstruasi yang lebih dari 7 hari untuk 3 bulan atau lebih, atau pendarahan dalam jumlah yang sangat banyak.
  • Cairan yang keluar tanpa berhenti dari vagina dengan bau yang aneh atau berbeda dari biasanya, berwarna merah muda, pucat, cokelat, atau mengandung darah.
  • Pendarahan Pada Vagina Pendarahan tidak normal dari vagina, termasuk flek adalah gejala yang sering terlihat dari kanker serviks. Pendarahan biasanya terjadi setelah berhubungan seks, di luar masa menstruasi atau setelah menopause
  • Rasa sakit tiap kali melakukan hubungan seksual.

Gejala Pada Kanker Serviks Stadium Akhir

  • Kehilangan selera makan.
  • Perubahan pada kebiasaan buang air besar dan kecil.
  • Rasa nyeri pada punggung dan samping, ini disebabkan pembengkakan pada ginjal. Kondisi ini disebut sebagai hidronefrosis
  • Bermasalah saat buang air kecil karena penyumbatan ginjal atau ureter.
  • Penurunan berat badan.
  • Pembengkakan pada salah satu kaki.
  • Nyeri pada tulang.
  • Terjadinya hematuria atau darah dalam urin.

 

Penyebab kanker serviks

  • Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal.Akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18.
  • Kanker Serviks  disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.

 

Penularan kanker serviks

  • Melalui hubungan seksual penularan virus HPV bisa terjadi, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital.

 

Diagnosa :

  • Biopsi Kerucut (Cone Biopsy). Sebuah prosedur operasi kecil bernama biopsi kerucut (cone biopsy)mungkin perlu dilakukan. Istilah biopsi kerucut diambil dari jaringan berbentuk kerucut yang diambil dari leher rahim. Sel-sel dari jaringan ini akan diperiksa dengan mikroskop untuk memeriksa apakah ada sel kanker. Prosedur ini dilakukan di rumah sakit dengan pemakaian bius lokal. Efek sampingnya adalah pendarahan yang mungkin terjadi hingga satu bulan setelah operasi. Selain itu, menstriuasi juga mungkin akan terasa nyeri. Jika leher rahim mengandung sel kanker atau sel yang berpotensi menjadi kanker, penanganan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan seluruh sel abnormal tersebut terangkat.
  • Prosedur Kolposkopi. Kolposkopi adalah pemeriksaan leher rahim untuk mencari kelainan. Dokter akan memakai kaca pembesar khusus untuk melihat vulva, vagina, dan leher rahim. Proses ini menggunakan mikroskop dengan lampu kecil di ujungnya. Jika terlihat kelainan pada proses kolposkopi, sampel kecil jaringan akan diambil dari leher rahim dan diperiksa di bawah mikroskop, untuk melihat apakah ada sel kanker di dalamnya. Seluruh proses ini akan dilakukan oleh dokter ginekolog.

 

Pemeriksaan Lebih Lanjut

  • CT scan: pemindaian kondisi tubuh bagian dalam dengan komputer untuk mendapatkan gambar tiga dimensi. Berguna untuk melihat kanker yang tumbuh dan apakah kanker sudah menyebar ke bagian tubuh yang lain
  • MRI scan: pemindaian memakai medan magnet yang kuat dan gelombang radio menghasilkan gambar dari dalam tubuh. Berguna untuk melihat apakah kanker sudah menyebar dan seberapa jauh penyebarannya.
  • Tes darah: dilakukan untuk memeriksa kondisi hati, ginjal, dan sumsum tulang.
  • Pemeriksaan organ panggul: rahim, vagina, rektum, dan kandung kemih akan diperiksa apakah terdapat kanker.
  •  PET scan: jika digabungkan dengan CT scan, dapat melihat penyebaran kanker dan juga memeriksa respons seseorang terhadap pengobatan yang dilakukan
  • X-ray dada: untuk melihat apakah kanker sudah menyebar ke paru-paru

 

Stadium kanker serviks

  • Stadium 0: stadium prakanker. Tidak ada sel kanker di leher rahim, tapi ada perubahan biologis yang berpotensi menjadi kanker. Tahap ini sering disebut sebagai cervical intraepithelial neoplasia (CIN) atau carcinoma in situ (CIS).
  • Stadium 1: kanker masih berada di dalam leher rahim dan belum ada penyebaran.
  • Stadium 2: kanker sudah menyebar ke luar leher rahim dan di jaringan sekitarnya. Tapi belum mencapai dinding panggul atau bagian bawah vagina.
  • Stadium 3: kanker sudah menyebar ke dinding panggung dan/atau ke bagian bawah dari vagina.
  • Stadium 4: kanker sudah menyebar ke usus, kandung kemih, atau organ lain,  seperti paru-paru.

 

Pengobatan Kanker Serviks

  • Radioterapi

Radioterapi adalah cara paling sering dilakukan untuk pengobatan kanker serviks. Radioterapi juga sangat cocok untuk segala kanker serviks di awal dan lanjut stadium. Radioterapi sendiri adalah penggunaan radiasai pengion yang diberikan pada penderita kankers dengan mematikan sel kanker sesuai dosis pada volume tumor. Radiasi akan merusak sel kanker dan menghambat pembelahan sel. Pemberian radiasi pada penderita kanker serviks disesuaikan dengan ukuran, luas, tipe dan stadium tumor. Meskipun dianggap sebagai pengobatan kanker serviks yang sangat baik akan tetapi memiliki efek samping pada perubahan tubuh yaitu kulit, rambut. Gangguan yang mungkin terjadi adalah infeksi kandung kemih. Radioterapi dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan tingkatan stadium kanker serviks.

  1. Radioterapi seluruh panggul (whole pelvis)
  2. Radioterapi karsinoma serviks uteri pasca wertheim
  3. Radioterapi brachiterapi
  • Operasi pengangkatan

Operasi pengangkatan rahim dan uterus (kandungan) dikenal dengan istilah histerektomi yaitu dengan melakukan pengangkatan rahim penderita yang dilakukan pada bagian rahim vagina dan jaringan parametrium, kemudian dilakukan pembersihan bilaterial kelenjar getah bening pada panggul. Ada 4 jenis tingkatan histerektomi:

  1. Histerektomi parsial (subtotal). Operasi pengangkatan yang dilakukan hanya pada rahim. Dengan operasi ini penderita kemungkinan menderita kanker rahim masih besar oleh karena itu disarankan melakukan pemeriksaan rutin.
  2. Histerektomi total. Operasi pengangkatan rahim dan mulut rahim. Pada operasi ini tidak melakukan pengangkatan tuba falopi dan ovarium.
  3. Histerektomi total dan salpingo-ooforektomi bilateral. Operasi pengangkatan rahim, serviks, tuba falopi dan ovarium.
  4. Histerektomi radikal. Operasi pengangkatan rahim, kelenjar getah bening, serviks, bagian atas vagina dan jaringan dalam panggul diangkat. Operasi pengangkatan (histerektomi) dapat melalui perut dan alat kewanitaan (vagina). Histerektomi melalui vagina cenderung lebih beresiko kecil dan cepat pulih . Cara pengobatan melalui histerektomi sering dilakukan  karena memiliki keunggulan yaitu membersihkan lesi kanker dan pengobatan yang lebih cepat. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan akan mengalami gangguan pada buang air kecil dan pengangkatan yang luas.
  • Radiopartikel

Teknologi pengobatan yang ditujukan menghambat perkembangan sel kanker dan tidak menggangu kegiatan sehari-hari. Radioterapi menggunakan biji partikel seluas 1,7 cm yang kemudian akan memancarkan sinar gamma dan tidak menghancurkan sel-sel tubuh lain. Pengobatan ini diharapkan dapat meminimalisir terjadinya kegagalan.

Cara diatas adalah cara yang umum digunakan untuk pengobatan kanker serviks selain pengobatan kolaborasi medis barat-timur, kemoterap dan lain-lain. Penderita kanker serviks diharapkan tidak putus asa karena dalam perkembangan teknologi saat ini banyak sekali menemukan teknik penyembuhan yang bisa membantu meminimalisir kerugian kanker serviks. Segera temukan gejala awal kanker serviks ,konsultasikan dengan dokter segera agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Efek Samping Pengobatan Kanker Serviks.

 

  • Mengalami menopause dini
  • Terjadinya penyempitan vagina
  • Munculnya limfedema atau penumpukan cairan tubuh
  • Dampak emosional pada penderita

 

 

Komplikasi Kanker Serviks

  • Fistula

Fistula adalah terbentuknya sambungan atau saluran abnormal antara dua bagian dari tubuh. Pada kasus kanker serviks, fistula bisa terbentuk antara kandung kemih dan vagina. Ini bisa mengakibatkan pengeluaran cairan tanpa henti dari vagina. Terkadang fistula bisa terjadi antara vagina dan rektum. Fistula termasuk komplikasi yang tidak umum. Hanya terjadi pada 2 persen kasus kanker serviks lanjutan.

Untuk memperbaiki fistula, biasanya perlu dilakukan operasi. Tapi ini sering kali tidak mungkin dilakukan pada wanita dengan kanker serviks lanjut karena kondisi mereka yang sudah sangat lemah. Jika operasi tidak memungkinkan, krim dan pelembap bisa digunakan untuk mengurangi pengeluaran cairan. Ini juga bertujuan untuk melindungi vagina dan jaringan di sekitarnya agar tidak rusak dan terjadi iritasi.

  • Rasa sakit akibat penyebaran kanker

Rasa sakit yang parah akan muncul ketika kanker sudah menyebar ke saraf, tulang, atau otot. Tapi beberapa obat pereda rasa sakit biasanya bisa dipakai untuk mengendalikan rasa sakit itu. Obat-obatan yang dipakai mulai parasetamol , obat anti inflamasi non-steroid atau NSAIDs, hingga morfin. Semua tergantung pada tingkat rasa sakit yang dirasakan.

Jika pereda rasa sakit tidak banyak membantu, tanyakan obat yang mungkin memiliki efek lebih kuat. Radioterapi jangka pendek juga efektif untuk mengendalikan rasa sakit.

  • Penggumpalan darah setelah pengobatan

Seperti kanker lainnya, kanker serviks bisa membuat darah menjadi lebih ‘lengket’ atau  ‘kental’ dan cenderung membentuk gumpalan. Risiko penggumpalan darah juga meningkat setelah menjalani kemoterapi dan istirahat pasca operasi. Munculnya tumor yang besar bisa menekan pembuluh darah pada panggul. Hal inilah yang memperlambat aliran darah dan akhirnya mengakibatkan penggumpalan di kaki. Gejala terjadinya penggumpalan darah pada kaki antara lain:

  • Sakit yang terasa sangat dalam di area kaki yang terkait.
  • Rasa sakit dan pembengkakan di salah satu bagian kaki, biasanya pada betis.
  • Kulit memerah, terutama pada bagian belakang kaki di bawah lutut.
  • Pada bagian yang terjadi penggumpalan, kulit akan terasa hangat.

Yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya pulmonary embolism atau emboli paru karena akibatnya bisa sangat fatal. Emboli paru adalah penggumpalan darah dari pembuluh darah di kaki bergerak ke paru-paru dan menghalangi pasokan darah ke paru-paru. Penggumpalan darah di kaki ini bisa ditangani dengan kombinasi obat-obatan pengencer darah, misalnya obat-obatan jenis heparin  atau waefar. Semacam stocking juga akan dibalutkan ke kaki karena bisa membantu memperlancar peredaran darah ke seluruh tubuh.

  • Pendarahan berlebih

Pendarahan berlebih bisa terjadi jika kanker menyebar hingga ke vagina, usus, atau kandung kemih. Pendarahan bisa muncul di rektum atau di vagina. Bisa juga terjadi pendarahan saat buang air kecil. Pendarahan berlebihan bisa ditangani dengan kombinasi obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah. Obat ini bisa menghalangi aliran darah.

Pendarahan kecil bisa ditangani dengan obat bernama asam trabneksamat. Obat ini membuat darah menggumpal sehingga dapat menghentikan pendarahan. Radioterapi juga efektif dalam menghentikan pendarahan karena kanker.

  • Produksi cairan vagina yang tidak normal

Cairan vagina bisa berbau aneh dan tidak sedap akibat dari kanker serviks stadium lanjutan. Cairan yang keluar bisa muncul karena beberapa alasan, yaitu:

  • Kerusakan pada jaringan sel-sel.
  • Kerusakan pada kandung kemih atau usus sehingga terjadi kebocoran isi organ-organ tersebut yang keluar melalui vagina.
  • Karena infeksi bakteri pada organ vagina.
  • Pengobatan untuk kelainan cairan vagina ini menggunakan gel antibakteri yang mengandung metronidazole . Bisa juga dengan cara memakai baju yang mengandung zat arang (karbon). Karbon adalah senyawa kimia yang sangat efektif untuk menyerap bau yang tidak sedap.
  • Perawatan Paliatif

Perawatan paliatif bisa menjadi alternatif jika pasien tidak ingin mendapatkan perawatan kanker. Perawatan ini bertujuan untuk mengendalikan gejala-gejala akibat kanker dan membuat Anda merasa lebih nyaman. Tanyakan pada dokter agar Anda paham dengan apa yang akan terjadi.

  • Gagal Ginjal 

Ginjal berfungsi membuang materi limbah dari dalam tubuh. Limbah ini dibuang melalui urin melewati saluran yang disebut ureter. Tes darah sederhana bisa dilakukan untuk mengawasi kinerja ginjal. Tes darah ini biasanya disebut sebagai tingkat serum kreatinin.

Pada beberapa kasus kanker serviks lanjutan, kanker bisa menekan ureter. Ini menyebabkan terhalangnya aliran urin untuk keluar dari ginjal. Terkumpulnya urin di ginjal lebih dikenal dengan istilah hidronefrosis. Kondisi ini bisa menyebabkan ginjal membengkak dan meregang. Hidronefrosis parah bisa merusak ginjal sehingga kehilangan seluruh fungsinya. Kondisi inilah yang disebut sebagai gagal ginjal.

Pengobatan untuk gagal ginjal adalah dengan mengeluarkan semua urin yang terkumpul di ginjal. Pipa akan dimasukkan melalui kulit dan ke dalam tiap ginjal, dikenal sebagai nefrostomi perkutan. Pilihan pengobatan lain adalah memperlebar kedua saluran ureter. Ini dilakukan dengan cara memasukkan pipa besi kecil atau stent ke dalam ureter.

Beberapa gejala yang muncul akibat gagal ginjal bisa sangat beragam, yaitu:

  • Sesak napas.
  • Mual
  • Pembengkakan pada pergelangan, tangan atau kaki karena penimbunan cairan.
  • Darah dalam urin.

 

online istana