Obat Herbal Hepatitis B

Hati adalah salah satu organ yang paling penting yang ada dalam tubuh manusia, hati memiliki fungsi menyaring racun yang terkandung dalam darah. Ketika hati terkena penyakit akan menimbulkan masalah besar bagi kesehatan karena racun tidak dapat tersaring dan beredar di dalam tubuh. Penyakit Hepatitis B merupakan penyakit yang merusak fungsi hati, penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis B.

Hepatitis B  dapat menjadi akut atau kronis.  Seseorang yang terinfeksi virus hepatitis B akan menghilangkan virus ini dengan sendirinya  dalam waktu 6 bulan dan  akan meningkatkan  daya tahan tubuhnya sendiri untuk melawan virus ini  pada orang dewasa. Setelah mereka sembuh, mereka tidak dapat  terinfeksi oleh virus hepatitis B lagi dan tidak dapat menularkannya ke orang lain. Hal ini disebut hepatitis B  akut.

Seseorang akan dikategorikan sebagai hepatitis B kronis apabila infeksi  terus terjadi dan melebihi 6 bulan.  Infeksi  kronis  terjadi pada 90% bayi-bayi yang terinfeksi virus hepatitis B  dan akan menyebabkan kerusakan pada hati, gagal hati ( pada saat hati sudah tidak berfungsi  ) dan kadang-kadang dapat menyebabkan kanker hati.

 

Faktor Penyebab Hepatitis B:

  • Darah yang Sudah Terinfeksi Hepatitis B

a. Berhubungan seks dengan pengguna obat-obatan terlarang yang memakai dan berbagi jarum suntik.

b. Berbagi sikat gigi, alat cukur, dan handuk yang sudah terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi.
c. Bekerja dan berurusan dengan darah. Paramedis dan staf laboratorium memiliki risiko lebih tinggi terhadap ketidaksengajaan tertusuk jarum suntik bekas.
d. Menggunakan obat-obatan terlarang dan berbagi jarum suntik serta peralatan lainnya
e. Menjalani transfusi darah di klinik atau rumah sakit yang tidak memeriksa darah untuk hepatitis f.  Semua darah yang akan digunakan dalam transfusi harus dites untuk berbagai penyakit, termasuk hepatitis B.
g. Memiliki luka terbuka dan terjadi kontak dengan darah yang terinfeksi.
h. Menjalani pengobatan atau perawatan gigi di klinik atau rumah sakit dengan peralatan yang tidak steril.
i. Menindik atau menato tubuh di tempat yang peralatannya tidak steril.

  • Cairan Tubuh yang terinfeksi Hepatitis B

Cairan tubuh merupakan salah satu perantara utama dalam penularan hepatitis B apabila :

a. Pekerja seks komersial (wanita atau pria) juga berisiko tinggi tertular hepatitis B.

b. Memiliki pasangan seksual lebih dari satu orang

c. Melakukan hubungan seks tanpa kondom (termasuk seks oral dan seks anal), terutama jika pasangan Anda sudah terinfeksi.

  • Penularan Dari Ibu Kepada Bayi

Penularan hepatitis B dari ibu kepada bayinya masih dapat dicegah. Caranya adalah dengan memberi vaksin hepatitis B pada sang bayi saat dilahirkan (sebaiknya dalam waktu 12 jam). Pemberian ASI juga boleh dilakukan jika sang bayi sudah menerima vaksin pada saat lahir.

Jika ibu hamil terkena hepatitis B, bayinya dapat tertular selama masa kehamilan atau pada saat lahir. Para ibu hamil dianjurkan untuk menjalani tes darah sehingga hepatitis B dapat segera terdeteksi.

 

Yang termasuk dalam gejala hepatitis B antara lain:

  • Gejala yang menyerupai flu seperti lelah, nyeri pada tubuh, sakit kepala, dan demam tinggi (sekitar 38ºC atau lebih).
  • Lemas dan lelah.
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual dan muntah.
  • Nyeri perut
  • Penurunan berat badan.
  • Sakit Kuning (kulit dan bagian putih mata yang menguning).

 

Komplikasi Hepatitis B

  • Hepatitis B dan Komplikasi Kanker Hati

Gejala pada komplikasi ini di antaranya adalah mual, muntah, sakit perut,  penurunan berat badan, serta sakit kuning (kulit dan bagian putih mata yang menguning). Hepatitis B kronis yang akan berkembang menjadi kanke hati  diperkirakan mencapai 10 persen.

  • Hepatitis B dan Komplikasi Hepatitis B Fulminan

Beberapa gejala yang mengindikasikan kondisi tersebut adalah penderita menjadi linglung atau bingung, perut yang membengkak, dan sakit kuning. Hepatitis B fulminan terjadi saat sistem kekebalan tubuh menjadi keliru dan mulai menyerang hati hingga menyebabkan kerusakan yang parah. Hepatitis B fulminan membutuhkan perawatan medis darurat. Jumlah penderita hepatitis B fulminan yang meninggal dunia diperkirakan mencapai 70 persen tetapi Hepatitis B fulminan memang jarang terjadi dan umumnya disebabkan oleh hepatitis B akut. Tetapi komplikasi ini juga dapat terjadi pada penderita hepatitis B kronis dewasa.

  • Hepatitis B dan Komplikasi Sirosis

Sirosis adalah pembentukan jaringan parut pada hati. Gejala sirosis biasanya tidak terdeteksi dan sering tidak disadari penderitanya sampai terjadi kerusakan yang parah pada hati. Sirosis yang parah dapat memicu gejala-gejala seperti turunnya berat badan, mual, gampang lelah, gatal-gatal pada kulit dan pembengkakan pada perut serta pergelangan kaki. Jaringan parut adalah jaringan yang terbentuk setelah sel-sel hati yang awalnya normal, mengalami luka atau radang yang berkelanjutan. Dalam hati yang terkena sirosis, sel-selnya telah mengalami perubahan sehingga tidak lagi dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Perubahan ini terjadi perlahan-lahan dalam waktu bertahun-tahun. Perkembangan komplikasi ini dapat dihambat dengan langkah pengobatan tertentu, misalnya dengan obat antivirus. Tetapi ada sebagian penderita yang terpaksa menjalani transplantasi hati.

 

Pengobatan hepatitis

  • Hepatitis B Akut Ringan : penderita dapat dirawat jalan prinsip pengobatan adalah mempertahankan masukan nutrisi dan cairan, menghindari aktivitas fisik berlebihan, serta pengobatan sesuai gejala. Pemberian antivirus terbatas untuk penderita hepatitis fulminan dan penderita dengan gangguan imun (pertahanan tubuh).
  • Pada gagal hati akut: pasien harus dirawat di rumah sakit tujuan perawatan adalah menunggu perbaikan infeksi secara spontan dan perbaikan fungsi hati, mendeteksi komplikasi dan segera mengatasinya, serta mempersiapkan transplantasi hati jika tidak terdapat perbaikan.
  • Untuk hepatitis B kronik: terdapat 2 golongan obat yang digunakan: kelompok imunomodulator (termasuk terapi vaksinasi) dan kelompok antivirus. Tujuan pengobatan hepatitis B kronik adalah mencegah atau menghentikan kerusakan hati untuk mencegah komplikasi lanjut (gagal hati, pengerasan hati, dan kanker hati). Vaksinasi hepatitis B terutama direkomendasikan untuk diberikan pada bayi baru lahir, petugas kesehatan yang terpapar darah, pengguna jarum suntik, orang dengan partner seksual multipel, orang dengan cuci darah rutin, orang yang mau berpergian ke daerah yang rawan hepatitis B, dan anak di bawah 18 tahun yang tidak pernah divaksinasi. Vaksin hepatitis B diberikan 3 kali pada bulan 0, 1, dan 6. Pada bayi baru lahir, vaksin hepatitis B diberikan 3 kali, yaitu dosis pertama setelah lahir, dosis kedua saat usia 1 -2 bulan, dan dosis ketiga pada usia 6 bulan. Vaksinasi hepatitis B 95% efektif dalam mencegah infeksi dan komplikasi kronis hepatitis B. Vaksinasi ulang tidak direkomendasikan diberikan secara rutin, kecuali untuk orang dengan gangguan sistem imun atau berisiko tinggi.
krida prasetia